Sutiyoso Dari Tentara Sampai Gubernur

Sutiyoso Dari Tentara Sampai Gubernur

daftargubernurindonesia.web.id Letnan Jendral TNI Sutiyoso yang sempat menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 1997-2007 ternyata sebelumnya sempat mengangkat senjata,Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Sutiyoso Dari Tentara Sampai Gubernur. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Sutiyoso Dari Tentara Sampai Gubernur

Masa-masa awal menjadi Gubernur DKI Jakarta bisa jadi merupakan periode sulit bagi Letnan Jenderal TNI (Purn) Sutiyoso. Bang Yos, sapaan akrabnya, kala itu memiliki latar belakang militer dengan pangkat Letnan Jenderal TNI harus dihadapkan dengan sederet persoalan birokrasi. Padahal Bang Yos sudah akrab dengan misi atau operasi militer yang kerap dijalankan saat dirinya menjadi tentara.”Mengubah haluan, apalagi saya militer masuk pasukan khusus yang dilatih. Contoh, menghancurkan jembatan, menghancurkan gedung-gedung tinggi dalam keadaan senyap maupun terang-terangan, itu di pasukan khusus. Terus sekarang aku jadi gubernur,” ucap Bang Yos di kepada Kompas.com di kawasan Thamrin, Jakarta Barat, Senin (3/2/2020). Tanpa pikir panjang, Bang Yos harus cepat beradaptasi dengan lingkungan dan cara kerja yang baru. Terkadang juga, Bang Yos harus melakukan hal yang kontradiksi dengan apa yang dilakukan selama ini di dunia militer, seperti mengurus kebutuhan administrasi warga dari berbagai kalangan. “Dulu pasukan khusus, sekarang gubernur suruh buat jembatan, suruh buat gedung openin (mengurus) orang dari kandungan sampai dia mati. Itu urusan aku, jadi kontradiksi. Tapi itulah kemampuan seseorang untuk adaptasi,” sambung Bang Yos.

Seiring berjalannya waktu, Bang Yos terus bekerja dan melakukan adaptasi dengan tanggung jawab barunya. Tetap saja model kepemimpinan militer dengan sifat tegas dan disiplin melekat dalam diri Bang Yos.Tak jarang dalam mengambil kesempatan dan menyelesaikan persoalan dengan para kepala dinas serta walikota, Bang Yos merasa sulit karena adanya beda pendapat serta penyelesaian secara dialog. “Memang tidak mudah ya dari kehidupan militer yang keras, ya di situ (militer) saklek sesuai garis komandonya, jelas. Apalagi di Kopassus,” ucap Bang Yos. Kendati begitu, Bang Yos justru menyuruh stafnya untuk tidak nurut-nurut saja dan menyesuaikan cara kepemimpinannya.

Namun, lebih kepada Bang Yos sendirilah yang harus beradaptasi dan menyesuakan dengan birokrasi yang ada dalam pemerintahan. “Baru pas saya jadi gubernur pemimpin orang-orang sipil yang tidak bisa diperlakukan secara cara militer. Saya harus menyesuaikan, bukan mereka yang harus menyesuaikan kehidupan,” ucap Bang Yos. Karier Bang Yos di dunia militer sendiri berjalan mulus, Sutiyoso pernah menjabat mulai dari Wakil Komandan Jenderal Kopassus sampai menjadi Panglima Kodam Jaya pada tahun 1996 sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 1997.

Menjadi seorang pemimpin harus memiliki modal ilmu pengetahuan dan serta pengalaman mempuni untuk melewati segala permasalahan. Kira-kira hal itu yang masih menempel dalam diri Gubernur DKI Jakarta periode 1997-2007 Letnan Jenderal TNI  Sutiyoso. Diawali dari masa sekolah, Bang Yos (75), sapaan akrab Sutiyoso, ingat betul bukan hal mudah saat awal meniti karir dari tempat asalnya di Semarang.Saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) saja Bang Yos sudah mengalami sulitnya berbagi bangku sekolah dengan orang lain karena ketiadaan gedung sekolah. Ruang tamu rumahnya pun jadi kelas.

Baca Juga : Anies Dan Anas Komentar Masalah Monas

“Saya asal-usulnya dari orang miskin dari desa banget benar-benar ayah saya hanya guru SD, anaknya 8, gajinya sedikit. Ruang tamu kita dikorbankan jadi kelas waktu itu saya kelas 4 SD,” ucap Bang Yos kepada Kompas.com di kawasan Thamrin City, Jakarta Pusat, Senin (3/2/2020). Berbagi ruang kelas dan rumah saat itu menjadi ingatan tidak terlupakan bang Yos. Masa-masa itu yang makin membuat tekad Bang Yos kecil dalam mengejar cita-citanya menjadi kuat. Usai lulus dari SD, Bang Yos kecil pun melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bang Yos ingat saat itu desanya tidak ada bangunan SMP, sekolah tingkat SMP terdekat jaraknya 4 km dari rumah. Jalannya masih menyusuri hutan yang lebat dan sepi.

“Setelah lulus kelas 6 kan tidak ada space di rumah, lantas aku sekolah ke SMP yang ada di dekat kecamatan kira-kira 4 km jalannya. Bayangkan waktu kecil umur 11 tahun bolak-balik 4 km, setiap hari lewat hutan sampai lulus SMP,” ucap Bang Yos mengingat masa kecil.Usai menyelesaikan pendidikan dari bangku SMP, Bang Yos kemudian masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan tamat. Masalah ekonomi membuat bang Yos yang saat itu tertatih menjalani bangku kuliah. Ia tidak ingat kapan dan di mana kala itu mengenyam pendidikan di bangku kuliah, yang terlintas adalah masa-masa awal pindah dan memilih Akademi Militer. “Saya tidak mampu bayarnya perjuangan luar biasa itu saat lulus SMA, saya kuliah yang sebenarnya enggak mampu membiayainya dan masuk ke Akademi Militer,” terang Yos.

Di Akmil, pria kelahiran Semarang, 6 Desember 1944 itu menemukan jati diri sebagai prajurit dan seorang pemimpin. Pengalaman pendidikan berliku di masa yang sulit membuat Bang Yos semakin cakap dalam berbagai hal, terlebih soal kepemimpinan. Bang Yos mengaku jadi tahu cara menempatkan diri sebagai pemimpin yang dibutuhkan oleh rakyat kala menjadi gubernur DKI, terlebih saat menghadapi permasalahan. Ia selalu melihat ke belakang dan yakin dengan keputusan yang diambil. “Coba bayangkan sendiri, bukan sampai puncak wapres atau presiden, tapi pernah memimpin jabatan setingkat menteri. Itu bukan hanya soal kualitas saja. Itu soal apa dia jadi gubernur pun saya enggak kepingin cuma akhirnya jadi kayak begini gini kan. Jadi pemimpin harus lewati berliku-liku nggak mudah,” ucap Bang Yos. Sutiyoso pun berpesan kepada generasi muda terlebih para pemimpin, agar tetap semangat dalam meraih cita-cita dan bekerja walau kerap dihadapkan oleh rintangan.

Related posts